Mimpi Yusuf

Suatu ketika Yusuf terbangun dari mimpinya. Ceritanya dalam mimpinya, dia melihat tujuh sapi yang gemuk dan tujuh sapi yang kurus.

Kali ini aku yang bermimpi. Aku melihat mesin pendingin produk minuman, penuh terisi, namun terkunci. Aku bisa membukanya, tapi aku tak mau. Aku menunggu seseorang datang membukakannya Dan orang itu akan datang, setelah aku menunggunya.

It’s a bittersweet life, dude!  Let’s face it together, until the last day of the month!

~posting ini ditujukan buat Azka, yang sedang senasib sepenanggungan dengan penulis, setidaknya hingga akhir bulan ini; dan juga buat jutaan anak rantau di dunia yang mungkin merasakan nasib serupa~

BGM: Beautiful World, Hikaru Utada

Every Time She Whispers

Aku tidak terlalu sering mendengarkan musik Jazz. Sejujurnya malah aku tidak begitu mempedulikan genre musik. Bagiku, aku hanya percaya pada telingaku dalam memilih musik yang kusukai. Suatu musik yang kusukai tidak memiliki syarat-syarat khusus. Musik itu bisa berasal dari manapun. Ada beberapa musik alay yang kusukai, maupun lagu kebangsaan favoritku. Bahkan ada beberapa musik Bollywood yang biasanya aku hindari, berada dalam playlist MP3-ku selama berminggu-minggu. Aku juga tidak terlalu berpatokan pada pemusik juga. Aku hanya menikmati beberapa musik yang bagus dari seorang pemusik. Semisal SORE, aku hanya menikmati album Centralissmo dibanding album-albumnya yang setelahnya. Atau dalam contoh yang lebih umum, aku lebih menikmati Dewa era antara Kuldesak dan Bintang Lima ketimbang era sebelum dan sesudahnya.

Musik yang kusukai, biasanya memiliki kekuatan nada yang unik. Umumnya paling terlihat dari permainan kuncinya. Sampai sekarang, aku tak bisa mendefinisikan konsep ini, tapi mungkin contoh yang cukup kuat dalam penggambaran kekuaran nada ini adalah lagu kebangsaan Israel, Hatikva, terutama pada pengurangan reff terakhirnya. Contoh lain mungkin adalah refrain lagu The Mamas and The Papas yang berjudul California Dreamin’. Atau dalam contoh yang paling umum, sejujurnya lagu-lagu Kangen Band memiliki kekuatan nada yang bagus, sayangkan eksekusinya yang selalu kurang. Mantan keyboardis NAIF (yang saya lupa namanya), juga memberikan kekuatan nada yang unik dalam setiap melodi keyboardnya, ambil contoh bagian-bagian keyboard dalam lagu Jikalau. Menurutku, kesalahan terbesar NAIF adalah ‘membuang’ keyboardis tersebut, karena terbukti kemudian, tanpanya, NAIF tidak pernah menjadi sebegitu terkenalnya lagi.

Every Time She Whispers adalah sebuah judul lagu Michael Franks, yang rasa-rasanya cenderung masuk genre smooth jazz. Cukup minim minatku dalam musik jazz, terutama karena aku cenderung ‘tidak sabaran’ dalam mencerna musik ini. Lagu ini-pun, sebenarnya hanya sebuah kebetulan pernah sampai di telingaku. Adalah bapakku yang lebih suka mendengarkan musik jazz sambil bekerja. Dan Michael Franks, terutama lagu inilah yang sempat terekam dalam otakku, dan kemudian menjadi favoritku diantara sekian judul jazz yang bisa dihitung dengan jari. Aku menemukan kekuatan nada yang unik ini dalam bagian refrain-nya, yang cukup menyenangkan, dan pas dengan vokal Franks. Di sisi lain, musik ini membawa aura dan tone ’90-an yang sangat kuat, sehingga mampu membangkitkan kenangan pada masa-masa itu, di mana jazz menjadi lebih ‘urban’ dan jadi satu ciri utama masyarakat urban menengah ke atas Amerika Serikat yang begitu ngetren saat itu, melalui jas berbusa tebal, pakaian merk GAP, dan ikon yuppies, serta penggunaan warna biru ungu-violet yang ekstensif terutama di perkantoran. Era ini diwarnai melalui The Rippingtons, Phil Perry, George Michael, dan Michael Franks sendiri.

Ya, itu dia. Satu lagi nilai yang kupakai dalam menseleksi lagu adalah dengan bagaimana lagu tersebut dapat mewakili satu era yang kuat. Inilah mengapa aku menikmati I’ve Got The Power yang jadi lagu disko di awal ’90-an, Ren Tobing dengan Cinta Terlarangnya yang menjadi soundtrack film Arisan yang sangat kuat menggambarkan gaya sosialita Jakarta di penghujung 90-an dan awal 2000-an, maupun David Bowie dan The Smith yang menjadi pewaris ‘kinkyness’ rasa Warhol pada awal 1980-an. Aku begitu menikmati lagu dan eranya.

Baru-baru ini, dalam satu perbincangan dengan Iyok, temanku yang faham scene music indie tanah air, aku membuat satu istilah baru untuk mendefinisikan satu era musik yang sedang aku gali, yaitu ‘musik kolonialistik’.

Berhenti Kumohon!

Hingga hari ini, meskipun aku jarang menjumpai Tuhan, tapi, kami tetap akrab bermain. Dalam tiga bulan terakhir ini, kami sering sekali memainkan salah satu permainan favorit kami berdua, yaitu permainan ‘Asumsi-Asumsi’.

Dalam permainan ini, aku menebak sebaik mungkin berbekal rasionalitas dan moralitas berbagai kemungkinan dan asumsi yang paling mungkin terjadi, dalam sebuah rangkaian peristiwa yang Tuhan ciptakan di hadapanku. Rangkaian-rangkaian kisah yang terpenggal di tengah jalan, kisah dengan perspektif tunggal, kisah yang memecahkan dinding kelima, dan menyeretku kedalamnya.

Ya, meskipun semenjak SMP kami sering memainkan permainan ini, akan tetapi kali ini Tuhan memberikan fitur-fitur baru, di mana aku bisa terseret ke dalam permainan ini, sebagai satu tokoh. Tuhan memberikan kesempatan sepenuhnya padaku, apakah aku akan menjadi tokoh utama, tokoh pendukung, menjadi pahlawan, menjadi martir, atau menjadi sekedar kameo. Apakah aku dapat memenangkan segalanya, atau kehilangan segalanya, atau aku hanya sekedar menjadi pengamat kisah ini.

Dengan aku sebagai bagian dari cerita ini, maka aku yang pada awalnya hanya menganalisa dan membuat asumsi-asumsi yang obyektif, berubah menjadi ‘aku’ yang berusaha mengubah cerita dan memunculkan harapan-harapan yang subyektif terhadap si ‘aku’ dalam cerita ini.

Beberapa hal tidak berubah dalam permainan ini, di mana seperti biasa, sebagai penentu awal dan akhir cerita, Tuhan akan membuat berbagai ranjau bernama ‘twist’. Dan tugas utamaku, adalah untuk memprediksi dan menghindari ranjau ini sebaik mungkin.

Dengan hadirnya ‘aku’ dalam cerita ini, aku jujur merasa kesulitan. Aku tetap harus menebak asumsi-asumsi secara obyektif, dan di sisi lain aku harus secara subyektif menempatkan si ‘aku’ sebagai subyek cerita ini agar tidak berakhir tragis.

Aku tidak tahu, apakah permainan ini sudah memasuki akhir, akan tetapi, yang jelas, aku merasa terlalu tragis untuk meneruskan permainan ini. Tentu saja, bagaimanapun juga kodrat menyatakan Tuhan selalu menang.

Aku hanya tertegun, ketika aku merajuk ‘Tuhan, berhentilah mempermainkan hidupku..’, dan jawaban yang keluar adalah ‘Berhentilah mempermainkan hidupmu sendiri..

Atau, haruskah aku berhenti berharap? Agar Tuhan tidak perlu men-twist semua harapanku?

PS: Dan ketika aku kembali bertanya ‘Mengapa selalu ada twist yang menggagalkan asumsi-asumsiku?’ dan dibalas kemudian ‘..Because you never watch your back..’.

Gamang

Aku semakin gamang dengan fungsi blog ini dalam sebulan belakangan ini.

Ya, sudah dipastikan bahwa ini adalah –sesuai namanya- adalah semacam catatan harian. Akan tetapi, beberapa kejadian yang terjadi akhir-akhir ini mendorong penulisan diari ini menjadi sangat memihak kejadian-kejadian tertentu, sehingga menciptakan tone yang mengerikan dalam beberapa posting terakhir.

Adalah sebuah hal yang baik, ketika suatu sistem mengalami spesifikasi fungsi-orang politik menyebutnya division of labor. Blog ini, dari waktu ke waktu akan terus mempertajam bentuknya hingga menjadi sama sekali spesifik dan segmented. Ini adalah hal yang normal. Tapi tetap saja tone yang jelek (menurutku) akhir-akhir ini membuat blog ini terperangkap terhadap ekspresi-ekspresi yang terulang, dan berpeluang mempertahankan kondisi konfliktual yang berkelanjutan. Terutama karena fitur spesial dalam blog ini, yang mana, latar belakangnya bisa berubah tergantung mood  fotonya. Ini kemudian mempersulit blog ini untuk menciptakan satu identitas yang spesifik.

Dalam beberapa kecamukan pemikiran, sempat terlintas untuk membuat satu blog baru yang bisa mendukung kontinuitas menulis dan memiliki satu tone yang spesifik dan tidak berubah-ubah. Blog ini, akan tetap dipertahankan, tetapi tidak lagi merupakan sebuah diari, melainkan lebih pada suatu portofolio fotografi, dengan tulisan-tulisan pendek atau sajak-sajak ringan. Sejujurnya, tidak terlalu nyaman untuk menulis panjang lebar di blog ini karena marginnya yang sempit. Sementara, fungsi diari akan dikembangkan dalam blog baru tersebut, yang rasanya lebih nyaman dibuat dengan blogspot, ketimbang di sini. Yah, sama seperti penggunaan SLR Canon, pemakaian situs wordpress ini akhir-akhir ini lebih karena adanya kenangan-kenangan indah di sini. Akan tetapi, keterbatasan-keterbatasan teknis rasanya sudah menjadi alasan yang cukup kuat untuk berpindah blog. Meskipun itu artinya aku harus berpisah dengan ingatan-ingatan menyenangkan selama menguntit melalui WordPress. Sebenarnya bukan tidak mungkin untuk mengubah tema blog ini, akan tetapi melalui pencarian berhari-hari, tidak ada tema lain yang cukup memuaskan menggantikan tema blog ini. Tema-tema di WordPress, sejauh ini terlalu ‘personal’ dan ‘spesifik’, serta sangat minim kesempatan untuk melakukan kustomisasi blog , sehingga, pada akhirnya pilihan jatuh (umumnya) pada blogspot.

Meskipun nampaknya sudah meyakinkan, akan tetapi penggantian blog ini baru akan dijalankan bulan depan, karena akses internet cepat bulan ini hampir tidak memungkinkan. Blog baru ini juga masih perlu dikonsep dengan matang, dan tentu saja ini memerlukan waktu. Jadi mungkin, masih ada kesempatan-kesempatan terakhir untuk…

Happy Wednesday

Ini adalah satu scene dari film saya dan teman-teman saya, yang berjudul Reverie.

Setiap orang pernah fucked-up dalam hidupnya, terutama, pada masa belia.

Pada saat inilah, lagu Happy Wednesday dari film musikal ‘The Wasted Life of Matsuko” menjadi penghibur yang indah, terutama karena lagu ini membuat hari Rabu yang gamang menjadi sebuah hal yang menyenangkan.

Happy Wednesday!!

Shit Happens

Seminggu ini, entah bagaimana merupakan satu minggu yang sejujurnya (akan menjadi) sangat-sangat berat, buat penulis. (Yah, mengeluh di blog sendiri tak apa apa khan?)

Minggu, tidak bisa menonton White Shoes di MES 56,

Senin, ban pecah dan harus ganti ban,

Selasa, tidak bisa menghadiri prosesi Waisak di Borobudur,

Rabu, beberapa hal membuat mood menjadi sangat-sangat buruk,

Kamis, hari ini belum terjadi apa-apa. Tapi pukulan tiga hari sebelumnya benar-benar memaksa penulis untuk merekayasa mood-nya agar bisa berangkat ke kampus hari ini.

Jum’at belum tau ada apa.

Sabtu, tidak bisa ikut vakansi angkatan ke Sandranan.

Mari bernyanyi bersama! Always look on the bright side of life ~

Hari itu tidak hujan. Tidakpun mendung. Hari itu cerah, dan indah.

Tapi malam itu aku melihat serintik gerimis di depan kamarku.

Angin malam berhembus gamang.

Sesaat, gerimis itu usai, dan meninggalkan embun di jendela kamar.

Gambar ini didedikasikan untuk Wong-Kar Wai dan filmnya, Chungking Express. Sedikit banyak, aku menikmati beberapa bulan terakhir ini seperti Wong-Kar Wai menikmati pembuatan Chungking Express di tengah jeda pembuatan film epik Ashes of Time yang panjang dan melelahkan.

Pada akhirnya, selama apapun jeda yang ada, film epik itu harus tetap diselesaikan. Tapi, aku merasa malas beranjak dari Chungking Express-ku.

bgm : Piano Concerto No. 23, Mozart.

It’s A Mind

Hari-hari ini akses terhadap internet sangat sulit sehingga jarang sekali ada kesempatan untuk menulis di sini (mencoba beralasan). Tapi sungguhan, saat ini saja, penulis sedang menulisnya di ruangan World Bank di perpus kampus.

Laptop sudah terlalu menua, internet di rumah tak lagi bersahabat, dan warnet tentu bukan pilihan yang terlalu baik.

Hah, sungguh masa-masa yang sulit, minggu yang melelahkan dan akhir pekan yang menyenangkan, menunggu derai hujan terhenti diiringi gelak tawa.

Balik Tanganmu! Purnama Ada Di Sana (Jika Kau Mampu)!

Halah! Kalimat ini aneh benar??

Tapi benar-benar, bulan ini adalah bulan paling indah, terutama dalam hal nge-blog di blog ini yang baru berumur sebentar. Seorang kakak kelas dari jurusan seberang sedang membalikkan tangannya, dan Voila!! Laut terbuka, dunia terhempas, bulan turun ke bumi! Matahari terbit dari segala penjuru!

Ini adalah kegilaan yang beralasan, ketika mas Awe yang pernah saya resensi blognya memulai sebuah perlombaan untuk menulis blog terus-menerus selama sebulan, pada bulan Mei ini.

Dan semua berubah! Semua berubah! Semua menggila!!

(Maaf, atas ketidaknyamanan anda membaca, penulis sedang dalam ekstase dan tidak dapat melanjutkan untuk menulis)

Ketika Hal-Hal Tidak Bertambah Rumit

Adalah sebuah hukum alam, bahwa segala sesuatunya akan bertambah rumit.

Dalam semua film dan cerita, sang tokoh utama pasti akan mengalami sebuah kisah, dan seiring berjalannya cerita, maka kisah itu akan bertambah rumit dan pelik. Semakin rumit semakin dramatis. Dan sang tokoh utama, kemudian akan berakhir sebagai sang jawara setelah menghadapi semua kisah ini.

Dalam apapun, kerumitan dapat ditemui. Bukalah buku masakan. Di situ, kerumitan akan bertambah sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan, hingga kita baru sadar bahwa kita telat mengangkat adonan dari oven.

Lipatlah sebuah origami burung bangau. Kerumitan akan muncul pada saat kita kebingungan ‘bagian mana yang sayap, bagian mana yang kepala’.

Kerumitan muncul bukan tanpa alasan. Bahkan dalam manusia yang paling tidak rumit sekalipun (yang selalu tenang dan memandang bahwa setiap hal dapat diselesaikan dengan simpel), selalu akan muncul kerumitan, tapi dia hanya akan memandang bahwa hal itu bukan sebuah kerumitan. Kerumitan kemudian terjadi ketika manusia mulai memahami suatu hal dan berusaha mengenali aspek-aspek lanjutan dalam hal tersebut, di mana dia tidak punya pilihan lain selain masuk lebih dalam.

Maka, ketika dalam duniaku hal-hal tidak bertambah rumit, muncul pertanyaan, adakah yang salah dengan diri ini?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.