
Hingga hari ini, meskipun aku jarang menjumpai Tuhan, tapi, kami tetap akrab bermain. Dalam tiga bulan terakhir ini, kami sering sekali memainkan salah satu permainan favorit kami berdua, yaitu permainan ‘Asumsi-Asumsi’.
Dalam permainan ini, aku menebak sebaik mungkin berbekal rasionalitas dan moralitas berbagai kemungkinan dan asumsi yang paling mungkin terjadi, dalam sebuah rangkaian peristiwa yang Tuhan ciptakan di hadapanku. Rangkaian-rangkaian kisah yang terpenggal di tengah jalan, kisah dengan perspektif tunggal, kisah yang memecahkan dinding kelima, dan menyeretku kedalamnya.
Ya, meskipun semenjak SMP kami sering memainkan permainan ini, akan tetapi kali ini Tuhan memberikan fitur-fitur baru, di mana aku bisa terseret ke dalam permainan ini, sebagai satu tokoh. Tuhan memberikan kesempatan sepenuhnya padaku, apakah aku akan menjadi tokoh utama, tokoh pendukung, menjadi pahlawan, menjadi martir, atau menjadi sekedar kameo. Apakah aku dapat memenangkan segalanya, atau kehilangan segalanya, atau aku hanya sekedar menjadi pengamat kisah ini.
Dengan aku sebagai bagian dari cerita ini, maka aku yang pada awalnya hanya menganalisa dan membuat asumsi-asumsi yang obyektif, berubah menjadi ‘aku’ yang berusaha mengubah cerita dan memunculkan harapan-harapan yang subyektif terhadap si ‘aku’ dalam cerita ini.
Beberapa hal tidak berubah dalam permainan ini, di mana seperti biasa, sebagai penentu awal dan akhir cerita, Tuhan akan membuat berbagai ranjau bernama ‘twist’. Dan tugas utamaku, adalah untuk memprediksi dan menghindari ranjau ini sebaik mungkin.
Dengan hadirnya ‘aku’ dalam cerita ini, aku jujur merasa kesulitan. Aku tetap harus menebak asumsi-asumsi secara obyektif, dan di sisi lain aku harus secara subyektif menempatkan si ‘aku’ sebagai subyek cerita ini agar tidak berakhir tragis.
Aku tidak tahu, apakah permainan ini sudah memasuki akhir, akan tetapi, yang jelas, aku merasa terlalu tragis untuk meneruskan permainan ini. Tentu saja, bagaimanapun juga kodrat menyatakan Tuhan selalu menang.
Aku hanya tertegun, ketika aku merajuk ‘Tuhan, berhentilah mempermainkan hidupku..’, dan jawaban yang keluar adalah ‘Berhentilah mempermainkan hidupmu sendiri..’
Atau, haruskah aku berhenti berharap? Agar Tuhan tidak perlu men-twist semua harapanku?
PS: Dan ketika aku kembali bertanya ‘Mengapa selalu ada twist yang menggagalkan asumsi-asumsiku?’ dan dibalas kemudian ‘..Because you never watch your back..’.